KARIMUN – Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda) Provinsi Kepulauan Riau, Aries Fhariandi, memaparkan arah kebijakan pembangunan dalam Pembukaan Musrenbang RKPD Kabupaten Karimun Tahun 2027, Kamis (26/2/2026). Forum ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan perencanaan Kabupaten Karimun dengan target RPJMD Provinsi Kepulauan Riau 2025–2029.
Dalam paparannya, Aries menegaskan bahwa Provinsi Kepri dalam satu tahun terakhir menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Mulai dari perlambatan ekonomi dunia, fragmentasi perdagangan, tekanan inflasi pangan, hingga perubahan iklim yang berdampak langsung pada wilayah kepulauan.
Namun di tengah tantangan tersebut, kinerja makro Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan capaian yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Kepri Triwulan IV 2025 tercatat sebesar 7,89 persen, tertinggi di Sumatera dan peringkat ke-4 nasional. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025 mencapai 80,53 atau masuk kategori “Sangat Tinggi”, sekaligus peringkat ke-3 nasional. Tingkat kemiskinan pun turun menjadi 4,26 persen, terendah di Sumatera dan ke-4 terendah nasional.
Tema dan Prioritas Pembangunan Kepri 2027 yaitu “Pengembangan Potensi Perekonomian Daerah dan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berkarakter, Didukung Pelayanan Publik yang Bermutu.”
Sebagai bagian integral dari Kepri, Kabupaten Karimun diharapkan memberi kontribusi nyata terhadap capaian provinsi. Dalam RPJMD Kepri 2025–2029, target indikator makro Kabupaten Karimun tahun 2027 ditetapkan sebagai berikut:
• Pertumbuhan ekonomi: 5,60%–6,60%
• PDRB per kapita: Rp76,95–80,59 juta
• Indeks Pembangunan Manusia (IPM): 76,15
• Tingkat kemiskinan: 4,08%–4,99%
• Tingkat Pengangguran Terbuka: 5,46%–5,77%
• Indeks Daya Saing Daerah (IDSD): 3,82
• Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Daerah (IKLHD): 74,12
Dalam arah kebijakan kewilayahan, Karimun didorong untuk:
• Meningkatkan aktivitas ekonomi serta mendorong penguatan Kawasan Industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
• Mengembangkan industri halal, pertambangan, industri bernilai tambah tinggi seperti galangan kapal, hilirisasi alumina, dan elektronik.
• Mengembangkan industri hijau serta transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT).
• Mengoptimalkan potensi pariwisata sejarah dan religi, wisata kuliner, pariwisata kesehatan, ecotourism, sport tourism, hingga grey tourism.
Dengan posisi strategis yang berdekatan dengan jalur perdagangan internasional, Karimun dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi simpul pertumbuhan ekonomi berbasis maritim dan industri bernilai tambah.
Menutup paparannya, Aries menekankan bahwa sinkronisasi antara perencanaan kabupaten dan provinsi menjadi kunci agar pembangunan 2027 tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga menghadirkan pemerataan, kualitas hidup yang lebih baik, serta ketahanan daerah dalam menghadapi dinamika global.